Kupu-kupu cantik,

Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Juli 2014

Doa'ku Hari Ini



Ku Mohon

Setiap hariku…
Mohon agar Kau senantiasa
Memberiku ketenangan dalam hati kekuatan
Menempuhi segala…dugaan yang mencabar ini
Pasti punya artinya

Kau beriku harapan…Menjawab segala persoalan
Hadapi semua dalam tenang dengan merasa kesyukuran..

Ku doa
Kau selalu…
mengawasi Gerak-geriku berkatilah…
Ku perlu rahmat dariMu
Oh Tuhan terangkan hati dalam sanubariku
Untuk  menempuhi segala hidup penuh cabaran ini

Oh
Tuhan ku berserah segalanya kepadaMu
Agar jiwaku tenang dengan bimbinganMu selalu
Ada kala ku merasa hidup ini seperti kaca
Jikalau tidak bersabar hancur berderailah akhirnya
Tabahkanlah hatiku..melalui semua itu
Kuatkanlah…jagakanlah diriku


Minggu, 28 April 2013

Wanita dinikahi karena 4 perkara




عنْ أبِيْ هُرَيْرَةَرَضِيَ اللهُ عَنْهُعَنِ النَّبِيِّصَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمْقَالَ: تُنْكَحُ المَرْأةُ لِأَرْبَعٍ:
لمِالِهَا،
وَلِحَسَبِهَا،
وَلِجَمَالِهَا،
وَلِدِيْنِهَا
فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكْ

Dari Abu Hurairah – rhadiyallahu anhu – dari Nabi Muhammad SAW, beliau berkata:
“Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, (atau) karena agamanya. Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung, (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin”.

Karena Hartanya

Harta itu adalah salah satu dari fitnah dunia, apabila harta telah di miliki oleh seseorang maka harta itu menjadi fitnah dan cobaan baginya, memilih istri hanya karena harta kekayaannya saja berarti dia telah memilih untuk memiliki fitnah dan cobaan, ditambah lagi istri itu sendiri adalah cobaan :

“Hai orang-orang mu'min, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.),maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan berdamai (tidak memarahi) serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.Attaghabun, 64:14)

Firman Allah :

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. 64:15)

Maka Nabi menekankan kalian akan rugi, bila alasan menikahinya karena kekayaannya. Harta itu bernilai nol, angka nol akan ada harganya kalau didepannya ada angka lain selain nol, angka lain itulah agama. Bila orang memiliki harta, harta itu haqiqinya sangat hina, lebih hina dibandingkan dengan bangkai anak kambing di padang pasir yang luas. Pada suatu hari Nabi berjalan dengan para sahabat, kemudian menemukan bangkai anak kambing, “Hai para sahabat tidakkah kau lihat bagkai anak kambing itu ?” kata Nabi, “Ya Nabi” jawab para sahabat, “Siapakah yang mau mengambil manfaat dari bangkai itu?” sambung Nabi, saat itu para sahabat tidak ada yg bergerak, “Ketahuilah bahwa gambaran dunia itu lebih hina dari bangkai anak kambing itu”, al hadits... Kalau seseorang bisa merubah harta itu lebih bermakna, maka berbahagialah dia, antara lain harta yang mereka miliki digunakan untuk jihad fisabilillah.

Jadi janganlah calon suami hanya memilih perempuan hanya semata-mata karena hartanya. Dijamin akan rugi.

Karena Keturunannya

Firman Allah :

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .”  (QS. Attiin, 95:4)

Orang dilahirkan ke bumi itu tidak bisa memilih suku apa, keturunan siapa dan bagaimana warna  kulit, rupa dan bentuk fisiknya.  Namun secara garis besar semua manusia dibuat dalam bentuk 
yang sebaik-baiknya. 

Sebagian besar orang arab saat itu, betul-betul menjadikan keturunan sebagai patokan derajat manusia. Bila setelah perkawinan terjadi, ternyata diketahui derajat suku dan keturunan suaminya itu lebih rendah dari yg mereka lihat maka keluarga si perempuan berusaha agar bercerai, dengan alasan derajatnya berbeda. Bahkan di sebagian jazirah arab binatang kuda pun dicatat dari keturunan apa. Betul-betul tidak boleh dikawinkan dengan kuda sembarangan, karena nanti mengakibatkan adanya keturunan yang kurang bermutu. Tetapi untuk manusia haqiqi nya beda, mutu manusia itu adalah dari keimanan dan ketakwaanya.

Allah Berfirman :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Waspada.”
(AlHujuraat, 49:13)

Bila ada seorang laki-laki mendapatkan istri dari keturunan suku yg mereka anggap tinggi maka ia merasa bangga dan merasa derajatnya ikut naik, padahal ….

firman Allah :

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lupa dari apa yang mereka kerjakan.” (Al an’am, 6:132)

Saya pernah dialog dengan salah satu orang Yaman di Masjidil haram, yang warna kulitnya coklat agak gelap...Saat ada perempuan Yaman melintas, laki-laki Yaman yg saya ajak dialog mengatakan “Ini adalah salah satu dari suku kami di Yaman”, ...orangnya tinggi, putih, cantik. Kemudian ia saya tanya “Kenapa kamu dulu tidak menikahi yang seperti itu ?”, “O... tidak bagus karena suku saya kulitnya agak coklat tua, jadi adat kami menilai itu kurang baik karena nantinya bila memiliki keturunan tidak asli dari suku kami”, jawabnya. 

Saya juga pernah dialog dengan salah satu orang India, saya Juga tanyakan padanya “Kenapa anda tidak menikahi orang selain India ?”, “Wah tidak baik itu.., karena anak saya nanti “belang” tidak asli India. Kalau tidak asli India nanti orang India yang lain tidak mau kawin dengan anak saya yang “belang” itu , jawabnya. 

Inilah salah satu alasan orang mencari istri di lihat dari sisi nasabnya. Namun nasab pun akan membawa bencana bila tidak didasari agama.


Karena Kecantikannya

Allah berfirman : 

“Dia Allah menciptakan langit dan bumi dengan haq. Dia menjadikan rupamu dan Allah membuat bagus rupamu itu dan hanya kepada Allah-lah kamu kembali.” (Attaghabun, 64:3)

Allah berfirman :

“Dialah yang membentuk rupa kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Mulya lagi Maha Bijaksana dalam menghukumi.”

(Ali Imran, 3:6)

“Hai manusia, apakah yang telah mem perdaya kan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha mulia. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, Dalam bentuk rupa apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”   (Al Infithar, 82:6-8 )

Sebenarnya seluruh rupa manusia ini sudah sebaik-baiknya rupa. Maka janganlah memilih kecantikan wajahnya menjadi alasan memilih seorang istri.

Memilih kecantikannya saja tanpa melihat agamanya, dijamin kecantikan itulah yang akan mengakibatkan bencana. Wajah dibuat oleh Allah tidak untuk mengangkat derajat orang sesuai dengan dalil : ” Allah tidak memandang rupa kalian dan harta kalian, melainkan Allah memandang hati kalian dan amal kalian”.

Manusia telah diciptakan dengan fitrah menyukai segala sesuatu yang indah, elok dan cantik. Sebaik-baik perempuan adalah yang membuat suaminya bergembira ketika memandangnya karena keelokan dan pesona wajahnya. Tidak mengapa seseorang menyukai seorang wanita karena wanita tersebut cantik, yang tidak pantas adalah menyukai seorang wanita hanya karena kecantikannya. Dapat dibedakan? Jika yang pertama berarti kita menyukai wanita karena memang wanita itu cantik, namun kita juga memandangnya dari sisi lain; apakah wanita tersebut baik perangai dan akhlaqnya? Apakah wanita tersebut berhijab? Dan lain sebagainya, sehingga pertanyaan-pertanyaan ini bisa menjadi pertimbangan lain setelah kecantikan. Yang kedua, adalah ketika seseorang tidak mempertimbangkan sesuatu dari seorang wanita selain kecantikan, bila ada kecantikan pada parasnya, maka itu sempurna, tanpa perlu menimbang agama dan lain sebagainya. Kondisi seperti inilah yang sangat tidak dianjurkan.

Memandang seorang wanita hanya dari kecantikannya adalah hal yang akan terasa tidak bergunanya di kemudian hari, karena boleh jadi wanita cantik tersebut malah menyusahkan kita, tidak dapat mendidik anak, menyebarkan aib suami, suka ghibah, dan boleh jadi kecantikannya tersebut dipergunakan untuk menggoda lelaki lainnya selain suaminya. Sungguh, kecantikan adalah fitnah jika tidak dibarengi dengan agama. Semakin jauh usia pernikahan melaju, kecantikan/kegantengan pun akan semakin ditinggalkan, yang tersisa di kemudian hari adalah perangai dan akhlaq. Jika kecantikan habis dilekang zaman, maka agama dengan makna yang sebenarnya lah yang akan bertahan. Jika seorang wanita tidak memiliki agama, lalu apa yang dapat dibanggakan setelah kecantikan? Ternyata pernikahan bukan soal kesenangan dan kebanggaan belaka, dalam pandangan Islam, pernikahan lebih ke rancangan masa depan yang gemilang. Kesenangan dan kebanggaan akan sirna seiring dengan sirnanya sesuatu yang dibanggakan dan disukai tersebut, karena itu, jadikanlah kesenangan dan kebanggaan terhadap sesuatu yang tidak lekang dimakan zaman!

Masa depan yang gemilang adalah ketika pernikahan benar-benar menjadi berkah bagi sepasang anak manusia tersebut. Cinta tetap tersemi walau usia pernikahan sudah senja, anak-anak shalih dan shalihah, dan hal indah lain yang dapat dibayangkan oleh setiap muslim.

Syaikh Khatib berkata:

Hati-hati dengan kecantikan  Ditempat penuh kejelekan Kalaupun parasnya memesona Pudarnya ada di perangainya Apakah artinya kecantikan? Kalau bergaun keburukan?


karena agamanya

Agama di sini maksudnya adalah ketaatan bukan sekedar penampilan luar, namun bukan berarti tidak berhijab juga tidak apa-apa asal shalihah (baik perangainya). Berhijab merupakan setengah ketaatan, setengahnya lagi adalah perilaku, artinya, seorang wanita yang tidak berhijab tidak dinilai beragama dalam pandangan syara, karena ketaatannya kurang, walaupun wanita tersebut baik akhlaq dan perilaku kesehariannya.

Kenapa penyebutan agama dalam hadits diakhirkan, padahal agama sendiri adalah sesuatu hal terpenting yang harus diutamakan ketika memilih calon istri? Karena kenyataannya, sedikit saja orang yang memilih wanita lantaran agamanya.

Rasulullah saw bersabda “Tidak ada hal yang paling bermanfaat bagi seorang mukmin setelah taqwa kepada Allah selain wanita shalihah, jika diperintah, ia menaatinya, jika dipandang, ia membuatnya bahagia/senang, jika bersumpah, ia memenuhi sumpahnya, jika ditinggal suaminya, ia menjaga diri dan harta suaminya.”

Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang Allah beri rizki wanita shalihah, maka sungguh Allah telah menolongnya untuk menyempurnakan setengah agamanya, maka takutlah kepada Allah (dalam memenuhi) setengahnya lagi.”

(فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ), Pilihlah yang beragama, maka kau akan beruntung. Maknanya adalah, barang siapa yang menikah dengan seorang wanita yang beragama, maka sungguh ia telah beruntung, maka jagalah dia dengan baik. Kenapa dikatakan beruntung? Pertama, wanita yang beragama dengan makna yang sebenarnya tidak mungkin membangkang perintah suaminya (tentunya perintah yang tidak bertentangan dengan perintah Allah), dan karenanya suaminya merasa senang. Kedua, wanita yang beragama tidak mungkin berhias untuk selain suaminya, dan karenanya, ia akan senantiasa tampil menarik di rumah, dengan demikian sang suami akan tetap mencintainya. Dan masih banyak lagi keuntungan-keuntungan lainnya.

( تَرِبَتْ يَدَاكْ ), (jika tidak, semoga kau) menjadi miskin. Makna dari تَرِبَتْ يَدَاكْ  adalah ungkapan doa kefakiran terhadap seseorang yang menemukan wanita beragama namun lebih memilih wanita yang cantik atau dari keturunan ningrat, atau kaya raya walaupun tidak beragama. Ada yang mengatakan bahwa  تَرِبَتْ يَدَاكْdoa agar seseorang diberi kekayaan, namun hal ini tidak dapat diterima, karena Rasulullah tidak menyetujui sikap yang demikian (seorang lelaki yang lebih memilih wanita kaya ketimbang beragama). Jadi makna yang tepat adalah makna awal.

Dengan adanya ungkapan ini seolah Rasulullah benar-benar memotivasi seseorang untuk memilih pasangan hidupnya dengan selalu meninjau agama sebelum yang lainnya.

Wallohua’lam,

Referensi : dakwatuna

Sabtu, 08 Desember 2012

karna aku milikNya....


Princess Mos

Allah itu selalu jaga kita..

di saat kita ketakutan, cemas, hilang.. Allah lah yg setia menjaga kita..

tamparan buat diriku yg sering kali alpa.. lupa.. terus berdosa..

ternyata aku tidak menjaga Allah..

ku teringat bait-bait dari lisan tulus Rasulullah..

ketika itu Abbas Abdullah bin Abbas berada di belakang nabi.. lalu nabi bersabda.. terdengar oleh dia..

"Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa patah kata, jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya Dia akan sentiasa bersamamu.."

telapak tanganku menelekup wajah, malu pada Allah karna aku tak bisa menjagaNya di hatiku..

aku kurang bersyukur.. mujur ada yang sudi mengingatkan aku..

terima kasih untuk itu..

karna Dia.. kita terlindung dari petaka,

Allah bisa lakukan apa saja atas dosa kita padaNya..

terkadang aku hilang memahami makna tawakal,

aku terlindung di balik kekaburan pertolongan manusia..

sedang dia cuma perantara..

dan Allah-lah yang berkuasa !

selalu Allah ajarkan aku sesuatu.. selalu Allah menutup aibku..

Allah ingin menjaga kita,

karna kita milik Dia...

Rabithah hati - Tinta hati


Dengan nama yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang..

salam penuh rindu untuk kekasih .. Muhammad s.a.w..


moga meredhai kita semua...


banyak hal yang ingin saya sentuh.. memang seharusnya jiwa ini peka.. bahwa kehidupan yang sedang dijalani ini memerlukan penghayatan bersama iman dan ketaatan...

terlalu banyak hal yg berlaku dalam kehidupan, tarbiyah diri, dan dakwah.. semuanya menuntut diri ini untuk memberikan komitmen yang sangat berganda setiap satunya..

dan saya terfikir.. bahwa, memang harus seorang jundi taat pada qiyadahnya.. walaupn hati memberontak karna itulah tarbiyah tapi memang sukar untuk memahami karna jundi dan qiyadah itu cuma manusia,.. ada perasaan dan akal.. juga keegoan..

jauh sekali ingin menyamakan dia dan dia.. atau mereka dengan mereka.. karna yg saya fahami dijalan ini adalah proses adaptasi bukan perbandingan yang membuatkan rasa kesal itu wujud...

semua itu tentang ukhwah.. ukhwah yang dimana di dalamnya ada iman dan ubudiyah kepada ..

ia bukanlah hanya perasaan sayang dan suka.. bukan juga terlalu caringnya kita pada ia.. tp, ia adalah ibadah juga janji kita pada Allah..

dulu, kita berangan2... jika melihat akhwat seantero dunia.. mereka yang hidup dengan ruh iman.. kita bercita-cita memiliki apa yg mereka miliki... alasannya, kita ingin bersama2 akhwat itu untuk belajar... kita bangga kita bersama.. kita... kita.. dan kita...

tp benarlah.. angan-angan akan hanya menjadi bayangan.. ia tidak dapat dirancang.. karna ini adalah dunia realiti/nyata, perlu praktik bukan cuma teori...

sudah menjadi sunnatullah jika setiap apa yg dilakukan orang2 yg mengimani Allah itu pasti ada hadaf yg jelas.. biar pun ia hanya sekecil2 perkara..

tp sayangnya, sekarang ini.. banyak hal yang kita lakukan hanyalah utk memenuhi tanzim, wasilah dan sebagainya.. kita tidak letakkan itu semua sebagai tarbiyah.. kita penuhi tanpa kita tahu tujuannya... antara qiyadah dan jundi saling menyalahkan.. sedangkan, masing2 sedang ditarbiyah oleh Allah...

Allah menghadirkan akhwat dan mad'u disekeliling kita bukanlah untuk menunjukkan kitalah yang paling baik dan yg paling benar... tetapi dengan merekalah kita dapat mencermin siapa diri kita... sudahkah kita mensantuni mereka dengan akhlak yang baik?

mereka akhwat kita.. mereka juga mad'u kita... terkadang saya heran, sesama akhwat seperti singa kelaparan, tetapi apabila bertemu dgn mad'u BARU...istilahnya injak semutpun ia tak mati..

apakah kamu mengira bahwa dengan proses yang panjang ini telah mengebalkan hati akhwat kita.. sehingga mereka tidak disantuni, alasannya konon.. kita ingin mereka terima kita seadanya... sehingga kita biarkan sifat kita yang harus diterima seadanya oleh akhwat satu atau segerabak di jalan dakwah ini membuatkan kita berakhlak buruk sekali..

oh ukhtiku.. bukan begitulah cara santun seorang da'i...

akhwat kita tidak perfect segalanya.. TIDAK.. karna merekapun sedang beradaptasi dengan proses tarbiyah yang tidak pernah berhenti ini...

segalanya sangat menuntut kesabaran dan berlapang dada.. dan ia bukanlah kata2 setelah kita mengeluh kepenatan... sungguh tak mudah.. karna ini janji Allah buat mereka yang percaya bahwa masalah ukhwah, dakwah, organisasi dan segala yang melibatkan ramai orang itu adalah tarbiyah directly dari Allah...

jadi tidak heranlah jika ada orang2 yang memarahi, menangis, terlukai, dibenci, malah yang lebih hebat lagi.. adalah terfutur di jalan dakwah ini..

karna kita MANUSIA.. MANUSIA.. MANUSIA... tolong ingat itu..


ukhti.. fahamilah.. bahwa mereka, yang bersamamu menyertai jalan ini sama-sama sedang berkorban memberikan apa yang dia ada kepadamu.. agar kamu dapat merasai sejuknya ukhwah ini..
jika kamu terus menutup dirimu untuk disantuni, nanti yang terlihat hanyalah kecuaian atau aib yang dilakukan oleh akhwat kita...

sesungguhnya, di antara kita semua saling mengerti bahwa.. kamu sedang melawan dirimu utk meninggalkan segala jahiliyah yang selama ini membelenggu dirimu..

sesungguhnya, di antara kita semua saling mengerti bahwa.. kamu sedang mengikhlaskan harta, tenaga, perasaan dan dirimu utk diinfakkan di jalan ini...


sesungguhnya, di antara kita semua saling mengerti bahwa.. kamu sedang bersedih kerana mad'u yang coba kamu dekati tidak mau menerima dirimu untuk didakwahi..


sesungguhnya, di antara kita semua saling mengerti bahwa.. kamu sedang menghadapi masalah hebat karna keluargamu tidak menerima perubahanmu..


sesungguhnya, di antara kita semua saling mengerti bahwa.. kamu sedang berusaha utk memberi yang terbaik utk seluruh manusia.. dan yang paling penting yang terbaik yang ingin kamu persembahkan di hadapan wajah Allah kelak...


di sinilah letaknya percaya kita.. 'izzah kita kepada islam yang sedang kita bawa..

di sinilah doa rabithah menjadi tunjangan.. mengikat hati yang terurai.. mencantum cinta yang lesu terpisah, membasuh rindu yang kering... semua dengan tujuan kepada Allah.. hanya kepada Allah..

ukhti, ingatlah.. Allah mampu melakukan apa saja untuk memenangkan islam ini.. tetapi rugilah di saat Allah memberikan kemenangan itu kita sedang berburuk sangka dengan sesama...

adakah mungkin karna itu Allah belum memberikan kemenangan buat kita???

fikir-fikirkanlah..

"Di janjikan sebuah rumah di tengah2 syurga utk sesiapa yg menahan dirinya dari berdebat walaupun dia berada di pihak yang benar."
Sesungguhnya menjaga hubungan lebih baik dari menyakiti hati saudara mu…

Sabtu, 11 Agustus 2012

Adab Bercanda.. ^ Piiissss ^

Mungkin kita pernah mendengar seseorang berkata
Jenggotmu makin panjang aja, kayak embek” atau ketika ada akhwat bercadar lewat dikatakan, “Awas…awas…ada ninja lewat” dengan nada bercanda. Atau perkataan seperti ,
Eh gua dulu dong, yang tampangnya jelek belakangan” kepada teman kuliah saat sedang antri bayar SPP. Atau kadang kita bercanda,“Eh, naik mobil gua yuk, tapi mobilnya masih di toko”. Terdengar biasa saja kan ?

Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya dituntut untuk bisa berinteraksi dengan manusia yang lain. Karena manusia tidak bisa  hidup sendiri, melainkan butuh orang lain dalam memenuhi hajat-hajat hidupnya. Untuk bisa melahirkan seorang manusia saja,  seorang ibu butuh seorang suami. Saat lahir pun akan membutuhkan bantuan dari bidan atau dokter. Dan seterusnya sampai kita dewasa pasti akan membutuhkan peran orang lain dalam hidup kita.
Maka, seorang manusia sejatinya harus bisa berinteraksi dengan manusia yang lain dengan baik. Membangun keakraban,  membangun suasana kekeluargaan, menjalin persahabatan.

Rasulullah pun memerintahkan kita untuk menjadi orang yang suka bergaul di masyarakat dengan baik :
“Mukmin yang bergaul ditengah-tengah masyarakat dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar dengan gangguan orang.”
(HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Al-Fath)

Dalam bergaul, kadang diperlukan bumbu-bumbu agar muamalah tidak membosankan, tidak kaku dan supaya mudah tercipta keakraban. Bumbu-bumbu tersebut kadang berupa candaan. Bisa berupa plesetan, humor, tingkah yang lucu, sindiran dan segala macam bentuk canda yang bisa mencairkan suasana. Tentu saja hal ini adalah perkara mubah, boleh-boleh saja.

Bahkan Rasulullah pun suka bercanda. Anas ra. Meriwayatkan bahwa pernah ada seorang laki-laki meminta kepada Rasulullah agar membawanya di atas kendaraan. Kemudian Rasulullah berkata: “Aku akan membawamu di atas anak unta”. Orang tadi bingung karena ia hanya melihat seekor unta dewasa, bukan anak unta. Kemudian Rasulullah berkata: “Bukankan yang melahirkan anak unta itu anak unta juga?” (HR.Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad yang shahih)

Namun seringkali dalam kenyataannya, banyak sekali candaan-candaan yang melewati batas dan tidak sesuai dengan akhlak Islami yang hanif. Seringkali candaan mengandung unsur kebohongan, mengolok-olok ajaran agama, menyakiti perasaan teman, tertawa berlebihan dan kebatilan-kebatilan lain. Seringkali candaan jadi apologi seseorang untuk berbuat buruk. Misalnya ia mencela  seseorang kemudia nketika orang tersebut tersinggung pencela tadi berdalih “Saya kan cuma bercanda”.

Sungguh ini sebuah kezhaliman. Padahal Rasulullah sendiri dalam bercanda pun tetap tidak keluar dari batasan-batasan akhlak Islami. Dari Abu Hurairah ia berkata,
Ya Rasulullah, sungguh engkau sering bergurau dengan kami”. Kemudian Rasulullah berkata “Tapi, sungguh aku tidak mengatakan kecuali kebenaran”. (HR Tirmidzi, Hadist hasan).

Maka bercanda pun ada adabnya, yaitu :

1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah Rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam.

Di zaman Rasulullah pernah ada beberapa orang dari kaum Muslimin yang bercanda dengan berkata bahwa tidak ada orang yang lebih penakut dan berperut buncit seperti para penghafal Qur’an itu (Rasulullah dan para sahabat). Kemudian ada sahabat yang mendengarkan hal tersebut kemudian dilaporkan kepada Rasulullah. Kemudian turunlah ayat:
 “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? “. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (At-Taubah: 65-66).

Rasulullah pun tidak mema’afkan mereka walau mereka berdalih hanya bercanda saja. Karena ajaran agama ini adalah ajaran yang suci yang turun dari Allah, sekecil apapun itu. Maka barang siapa menghina ajaran ini, sama saja dengan menghina Allah SWT dan Rasul-Nya. Misalnya orang yg menghina seseorang yang memanjangkan jenggotnya karena mengikuti sunnah dengan berkata “Jenggotmu panjang sekali, mirip embek(kambing) “. Maka sama saja ia mencela orang yang telah mencontohkan hal tersebut, yaitu Rasulullah SAW.
Hal-hal lain yang sering dicela dalam candaan misalnya:
* Akhwat yang memakai cadar * Hadist tentang adanya syetan menjadi pihak ketiga bila seorang laki-laki berduaan dengan wanita non-muhrim. Mereka (orang-orang jahil) mengatakan bila ada temannya yang datang mengganggu aktifitas khalwat mereka, maka dialah syaitannya. Sungguh ini candaan yang bathil.
 * Ikhwan yang meninggikan pakaiannya di atas mata kaki. * Ucapan salam “Assalamu’alaikum” yang sering dibuat-buat supaya terdengar lucu. * dll.

2. Hendaknya percandaan itu tidak mengandung dusta.

Hendaknya pecanda tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan atau berbohong supaya orang lain tertawa. Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
 “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Al-Albani).

3. Hendaknya percandaan tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara manusia.

Mencela atau menyakiti perasaan tidak dihalalkan diantara sesama mukmin. Hendaknya setiap orang menjaga perasaan saudaranya dalam setiap keadaan, baik bercanda ataupun bukan. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mencela sebagian yang lain, karena boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari yang mencela” (Al-Hujurat : 11)

Misalnya dengan berkata,“Yang bertampang jelek minggir dulu” atau “Hei hitam, kalau malam jangan keluar rumah, nanti tidak terlihat”. Sekalipun hanya dalam candaan, celaan tetap akan menyakiti hati dan berbekas dihati. Lebih khusus mengenai ini   Rasulullah mengingatkan: “Janganlah seorangdi antara kamu mengambil barang temannya apakah itu hanya canda atau sungguh-sungguh; dan jika ia telah mengambil tongkat temannya, maka ia harus mengembalikannya kepadanya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud; dinilai hasan oleh Al-Albani). Hadist ini mengingatkan bahwa dilarang berbuat zhalim dalam bercanda, apakah itu mengambil  barang, menyakiti hati, menyakiti fisik atau semacamnya.

4. Bercanda tidak dengan semua orang.

Maksudnya, dalam bercanda harus pilih-pilih. Tidak semua orang suka dibercandai dan bercanda bisa saja menimbulkan mudharat (keburukan) bila dilakukan dengan orang-orang tertentu, misalnya wanita yang bukan mahram. Bercanda berlebihan dengan wanita non-muhrim akan menimbulkan fitnah. Maka sebaiknya dibatasi kadar dan intensitasnya. Begitu pula kepada orang yang lebih tua, tentunya sikap yang utama adalah santun dan berlemah lembut. Adapun bila ingin bercanda perlu disesuaikan jenis candaannya agar tidak mengurangi rasa hormat kita.

5. Tidak bergaya menyerupai wanita (atau laki-laki)

Seringkali untuk membuat orang tertawa, seorang laki-laki bergaya seperti wanita. Baik pakaian, cara berjalan, atau cara bicaranya. Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata,“Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan melaknat perempuan yang menyerupai laki-laki”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi, hadist shahih)

Sungguh aneh, saat zaman dahulu di negeri kita ini banci atau bencong menjadi hal yang tabu, namun di masa ini malah menjadi hal yang biasa saja dan malah jadi bahan candaan. Padahal hal tersebut mendapat laknat Allah dan Rasul-Nya.

Demikianlah akhlak seorang muslim yang hanif. Tidaklah melakukan sesuatu melainkan itu sebuah kebaikan, baik dalam bekerja, melihat, mendengar juga dalam berbicara. Sesuai dengan sabda Rasulullah: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka berkatalah yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Cuma ada 2 pilihan : berkata yang baik atau lebihbaik DIAM !

Para ulama yang shalih menganjurkan agar tidak memperbanyak canda dan tidak berlebihan dengannya. Baik dalam bermuamalah, dalam menuntut ilmu apalagi dalam berdakwah. Karena seseunggunnya hal tersebut dapat menjatuhkan wibawa, menjauhkan diri dari hikmah, menimbulkan kedengkian, mengeraskan hati dan membuat banyak tertawa yang melalaikan diri dari mengingat Allah.

(Diambil dari Al-Qismu Al-Ilmi, penerbit Dar Al-Wathan, penulis Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, versi Indonesia Etika Kehidupan Muslim Sehari-hari dengan penambahan)

sumber : http://copha.multiply.com/journal/item/4/Adab_Bercanda
==============================================================
Untuk temen2 yeni  yang SERING dan PERNAH TERSAKITI hari ini maupun yang telah lalu karena candaan yeni yang geje ini , mohon MAAF yg SEBESAR-BESARNYA  yaah ?? J
Tolong sering-sering diingatkan .. terimakasih   A



Minggu, 29 Juli 2012

Persiapan pernikahan








“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah. Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya (HR. Bukhori-Muslim)



Kebanyakan wanita membutuhkan persiapan mental yang matang untuk menikah. Namun, sering kali orang tua, keluarga besar dan teman-teman di lingkungannya sendiri mendesak si wanita untuk segera menikah. Dalam situasi ‘keterpaksaan’ ini beberapa wanita akhirnya mau tak mau menuruti saran mereka demi status, bukan atas dasar kesiapan mental. Tak heran jika kita sering mendengar orang menikah hanya dalam waktu yang singkat, kemudian bercerai. Untuk itu dalam artikel ini ada beberapa tips yang perlu dipertimbangkan sebelum menikah. Apa saja?

1. Siap berkomitmen
Pastikan bahwa kita siap untuk menjalin komitmen berdua dengan pasangan. Dalam pengertian siap menjalani hubungan yang ekskusif tanpa melibatkan pihak ketiga, baik secara emosional maupun seksual.
2. Kesediaan untuk memiliki tanggung jawab
Pastikan bahwa pada saat menikah kelak kita siap bertanggung jawab sebagai pasangan yang akan turut memerhatikan kesejahteraan pasangan kita.
3. Siap tidak bergantung pada orang tua
Pastikan bahwa kita bukanlah orang yang masih tergantung pada orang tua dalam pemenuhan kebutuhan-kebutuhan emosioanal. Saat menikah kelak, pemenuhan kebutuhan tersebut akan diarahkan kepada pasangan, sehingga loyalitas yang  kita miliki pun bukan pada orang tua melainkan pada pasangan.
4. Alasan menikah
Sejumlah orang menikah karena yang positif yakni karena cinta atau ingin memiliki teman hidup selamanya. Namun ada juga yang menikah hanya karena ingin “lari” dari situasi yang dianggap sulit, seperti keluaga yang susah ekonominya. Jadi, pastikan kita  menikah bukan karena alas an yang bersifat negative.
5. Pertemuan keluarga
Pernikahan tidak hanya milik berdua. Melainkan juga melibatkan seluruh anggota keluarga. Pastikan kedua pihak keluarga saling mengenal dan merestui. Pertemuan keluarga penting agar diketahui pula asal-usul pasangan serta pola hubungan dalam keluarga. Ingat, pasangan paling banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya.
6. Konseling Pranikah
Bila perlu, lakukan konseling pra nikah dengan mendatangi psikolog di dekat tempat tinggal berdua.
7. Persiapan (tempat,waktu,dana)
Melakukan persiapan pernikahan dengan memerhatikan tempat,waktu, dan dana yang sesuai bagi kedua belah pihak.
Nah, banyak bukan yang harus dipertimbangkan sebelum menikah? semoga artikel ini dapat membantu membekali anda dalam mempersiapkan mental dan sekaligus memantapkan anda untuk berkata. “ya, saya siap untuk menikah lahir dan batin!”
“Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah.” (HR. Tirmidzi)
J Eni Zaahirah J